Senin, 21 Oktober 2019

Penulisan

Judul  :
Membuat Aplikasi Voice Assistant Menggunakan Python
Nama Dosen Pembimbing  :
Dr.Ruddy J. Suhatril., S.Kom., M.Sc.
Softwere       :
JetBrains Pycharm

          Metode penulisan ilmiah ini yang dibutuhkan merupakan perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat keras yang digunakan merupakan satu unit komputer pribadi lengkap dengan koneksi internet yang memadai. Dan perangkat lunak yang digunakan adalah JetBrains Pycharm yang akan penulis gunakan sebagai text editornya.
          Jadi hal pertama yang saya lakukan adalah melihat kondisi disekitar lingkungan saya dimana banyak sekali masyarakat terutama remaja yang didalam kehidupan sehari-hari tidak terlepas dari yang namanya teknologi dimana kini teknologi seperti handphone (smartphone) dan paket internet sudah sangat murah dan mudah untuk didapatkan, sehingga semua golongan masyarakat dapat memilikinya dan bermain dengan yang namanya internet.
          Dengan adanya kebutuhan masyarakat dengan internet dan smartphone yang saat ini seperti menjadi kebutuhan primer, saya membuat aplikasi voice assistant ini untuk memudahkan masyarakat menggunakan teknologi sehingga dapat mempercepat waktu yang dibutuhkan.
          Kelebihan dari aplikasi ini ialah
1.    Mudah dalam menggunakannya
2.    Ringan
Alasan Penulisan Ilmiah saya menjadi terlambat adalah karena saya harus mempelajari softwere JetBrains Pycharm dan bahasa pemrograman python agar bias menggunakannya. Selain itu, dosen pembimbing yang susah untuk bertemu karena kesibukkannya.
Persiapan Promosi
          Dengan banyaknya masyarakat menggunakan teknologi sehingga membuatnya menjadi seperti kebutuhan primer, aplikasi yang saya buat ini diharapkan dapat mempermudah masyarakat dalam menggunakan teknologi sehingga aplikasi ini dapat digunakan oleh masyarakat luas.
          Menurut saya ketika masyarakat banyak menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari aplikasi ini berpeluang digunakan oleh masyarakat sangatlah besar, karena kegunaannya yang dapat memudahkan masyarakat tersebut dalam menggunakan tenologi di kehidupan sehari-hari.

Selasa, 12 Maret 2019

Teknologi Game

Virtual Reality (VR) Technology



Pernahkah Anda mendengar istilah Virtual Reality? Yup, istilah ini mungkin terdengar tidak asing di telinga kita. Dan sejak tahun 90-an, teknologi ini sudah sangat popular kemudian tenggelam karena memang belum siap untuk dihadirkan sebagai produk konsumen. Penggunaannya lebih banyak diperuntukkan sebatas segmen industri, militer dan medis.
Lalu apa sebenarnya Virtual Reality itu? Menurut Wikipedia, Virtual Reality atau juga dikenal sebagai immersive multimedia merupakan teknologi yang membuat pengguna dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan oleh komputer (computer-simulated environment), suatu lingkungan sebenarnya yang ditiru atau benar-benar suatu lingkungan yang hanya ada dalam imajinasi. Lingkungan realitas maya terkini umumnya menyajikan pengalaman visual, yang ditampilkan pada sebuah layar komputer atau melalui sebuah penampil stereokopik, tapi beberapa simulasi mengikutsertakan tambahan informasi hasil penginderaan, seperti suara melalui speaker atau headphone.
Saat ini mungkin Anda dapat menjumpai berbagai perangkat yang mengunsung teknologi VR dengan nama atau istilah yang berbeda. Namun secara konsep, teknologi VR ini mengerucut pada satu tujuan, yakni menciptakan dunia tiga dimensi memanfaatkan teknologi komputer di mana user dapat memanipulasi, mengeksplor dan merasakan bahwa dia tengah berada di dalam dunia tersebut.  Sehingga secara esensial, VR umumnya mencakup 2 poin utama yakni :
  1. Mampu menghadirkan gambar tiga dimensi yang sesuai dengan  perspektif pengguna dan memiliki kemampuan untuk melacak gerakan pengguna, terutama kepala dan gerakan mata.
  2. Sejalan dengan itu VR mampu menyesuaikan gambar pada layar pengguna untuk mencerminkan perubahan dalam perspektif.
Untuk menunjang VR system, dukungan ragam input device sangat penting untuk menghadirkan pengalaman sealami mungkin layaknya di dunia nyata. Berikut ini adalah beberapa perangkat input yang umumnya digunakan :
  • Joysticks
  • Force balls/tracking balls
  • Controller wands
  • Datagloves
  • Voice recognition
  • Motion trackers/bodysuits
  • Treadmills
Virtual reality hadir sebagai realisasi dari sebuah ide tau konsep yang hadir sejak tahun 1950 dari seorang cinematographer yang bernama Morton Heilig. Morton Heilig kala itu, membuat sebuah mesin yang diberi nama Sensorama dan sudah dilengkapi dengan odor meter, serta kursi yang bergerak ketika memvisualisasikan gambar ke penonton.  Beberapa tahun setelah itu, konsep virtual reality kemudian hadir dalam bentuk yang lebih canggih dengan memanfaatkan teknologi komputer dan layar monitor lewat ide Douglas Engelbart yang merupakan seorang teknisi radar. Pada masa itu, komputer rata-rata masih berukuran besar dan harus selalu ditempatkan pada ruangan ber-AC. Selain itu, pengguna komputer juga rata-rata adalah orang-orang yang benar ahli dibidangnya. Adalah Douglas Engelbart yang melihat potensi lain dari sebuah komputer, terkait dengan VR. Sebagai seorang visioner sejati serta pengalamannya dengan radar, Engelbart mampu membayangkan tampilan digital yang berasal dari komputer ketimbang hanya melihat komputer sebagai sebuah mesin raksasa. Dengan menghubungkan dengan komputer, ia tahu bahwa akan ada hal-hal yang bisa ditemukan selanjutnya.
Sebelum tahun 1950-an , komputer adalah mesin besar yang telah digunakan oleh militer. Mereka digunakan untuk menjadi mesin powerful yang bisa mengambil power supply sebuah kota .
Pada tahun 1980-an dan 90-an , Virtual Reality menjadi sebuah konsep yang telah diyakini sebagai sebuah masa depan sebagai sebuah perangkat yang merefleksikan dunia nyata dalam versi digital. Berbagai perangkat konsol dan video game pun mulai bermunculan dengan menawarkan konsep serta grafis yang benar-benar terlihat nyata, hingga akhirnya teknologi VR dengan konsep baru hadir seperti Oculus Rift, Project Morpheus dan lain-lain.
  • 1950-an : Morton Heilig membuat sebuah tulisan berjudul “Experience Theatre” yang berisi keterlibatan panca indera ketika melihat sebuah objek visual. Dan pada akhirnya ia merealisasikan lewat prototipe mesin yang di beri nama Sensora
    ma. Mesin ini mampu menghadirkan efek yang dapat dirasakan oleh penonton meliputi, suara, bau, sentuhan, dan tentu saja visual.
  • 1962 : konsep virtual reality kemudian hadir dalam bentuk yang lebih canggih dengan memanfaatkan teknologi komputer dan layar monitor lewat ide Douglas Engelbart yang merupakan seorang teknisi radar.
  •  1965 : Ivan Sutherland berusaha untuk meniru dunia fisik dengan penggunaan penemuannya. Dia menyebutnya  Ultimate Display . Virtual Reality dalam penemuan ini akan terlihat seperti dunia yang kita tinggali. Versi Sutherland ini tidak hanya
    berfokus pada objek 3D tetapi juga memberikan rangsangan taktil yang dianggap oleh beberapa orang sebagai konsep asli ketika mempertimbangkan sejarah Virtual Reality .
  • 1966 : Thomas A. Furness III memperkenalkan visual flight Simulator untuk pesawat Air Force.
  • 1968 : Ivan Shuterland bersama dengan muridnya Bob Sproull membuat virtual reality dan augmented reality pertama dengan sistem head-mounted Display yang diberi nama The Sword of Damocles.
  • 1978 : Andrew Lippman bersama timnya mengembangkan Hypermedia System lewat Aspen Movie Map yan
    g menawarkan virtual tour dalam kota Aspen.
  • 1991 : Antonio Media yang merupakan ilmuwan NASA merancang sebuah virtual reality system yang mampu untuk mengendalikan Rover Mars (sebuah kendaraan jelajah tanpa awak di mars) dari bumi lewat system yang diberi nama Computer Stimulated Teleoperation.

Rabu, 28 November 2018

Karakter



Animasi karakter adalah suatu teknik penggambaran dan pengolahan karakter baik berupa 2 dimensi maupun 3 dimensi sehingga peran/karakter yang dibuat seolah-olah hidup dan bersifat seperti makhluk hidup.
Kali ini saya ingin membuat sebuah karakter yang mungkin sudah banyak orang yang tahu akan karakter ini, karakter ini yaitu Baymax





Saya membuat karakter Baymax ini menggunakan aplikasi blender. Berikut tahapan-tahapan pembuatannya
1.     Siapkan satu buah kubus
2.    Lalu tambahkan modifier subdivision surfife pada kubus tersebut
3.    Lakukan lah scale dengan menekan tombol s pada keyboard lalu arahkan pada sumbu yang diinginkan x,y,z
4.    Setelah selesai melakukan scale, kemudian duplikat objek tersebut dengan menekan tombol shift+d, disini saya menduplikatnya sebanyak 5 kali, yaitu untuk membuat badan, kedua tangan dan kedua kaki
5.    Tambahkan mata, dengan menambahkan objek berupa silinder yang dan lakukan scale untuk mengatur ukuran sesuai yang kita inginkan
6.    Tambahkan satu objek berupa kubus yang nantinya akan berfungsi sebagai sebuah ruangan
7.    Lakukan faces pada kubus tersebut untuk menghilangkan permukaan depan dan atas dengan masuk kedalam edit mode
8.    Terakhir lakukan pewarnaan dan atur lampu kedalam bentuk hemi, supaya cahaya yang ditembakkan merata kesegala arah

Berikut adalah output setelah dilakukan proses render :